PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

PERENCANAAN METODE PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

 

Makalah ini dikumpulkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Learning Planning on English Learning Teaching

Submitted By :

Monica Purnama Sari Hasan (2223090468)
Novialimar Arifin (2223091808)
Qurrotul Ayni (2223091158)
Risa Amelia Vivi Andriyanti (2222091819)
Siti Sela Hardiyanti (2223090624)
Sri Rejeki (2223091030)

 

PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang Masalah

Out put atau hasil belajar yang kurang optimal adalah permasalahan yang sangat sering muncul dari sebuah pelaksanaan proses pembelajaran. Ketidakmampuan siswa untuk memahami dan menguasai berbagai kompetensi dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan muncul dari sebuah proses pembelajaran merupakan indikasi ketidakberhasilan proses pembelajaran itu. Salah satu penyebab ketidakberhasilan sebuah proses pembelajaran itu adalah metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas tidak banyak merangsang dan mendorong siswa untuk mampu secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Para guru lebih banyak menempatkan dirinya sebagai orang yang “paling tahu” segalanya dan menempatkan siswa sebagai individu-individu yang “tidak banyak tahu” tentang suatu hal. Dengan demikian peran guru hanya semata-mata sebagai transmitter pengetahuan dan siswa sebagai penerima pengetahuan tanpa ada keleluasaan untuk memilih dan menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dari sebuah proses pembelajaran.

Ada kontras yang sangat mencolok antara pendekatan proses pembelajaran yang terjadi di negara-negara barat (Amerika, Australia, Belanda, dll) dengan pendekatan proses pembelajaran yang terjadi di Indonesia. Proses pembelajaran di negara-negara barat lebih banyak menerapkan pendekatan pembelajaran demokratis kolaboratif dengan banyak menempatkan siswa dan guru pada posisi setara. Siswa dan guru secara bersama-sama menentukan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Kondisi pembelajaran semacam ini menekankan segi humanistik, karena guru bukan merupakan satu-satunya penentu segala aktivitas pembelajaran. Selanjutnya peran guru lebih banyak sebagai fasilitator. Sebaliknya proses pembelajaran di Indonesia tampak sangat mekanistik dan tidak mengarahkan siswa untuk berpikir pada tataran tingkat tinggi, karena guru lebih banyak berperan sebagai transmitter pengetahuan dan siswa semata-mata menerima pengetahuan dari guru. Peran guru yang hanya sebagai transmitter pengetahuan ini pada akhirnya kurang mendorong siswa untuk kreatif dan tidak banyak terlibat baik secara fisik maupun mental dalam proses pembelajaran.

Permasalahan di atas banyak pula terjadi dalam proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (Teaching English as Foregin Language; TEFL) di Indonesia. Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, baik pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah, lebih menekankan pada aspek pengetahuan bahasa, pemahaman isi wacana, juga lebih banyak hanya berorientasi pada hasil ujian yang ingin dicapai (ujian semester, ujian nasional, dsb), tetapi justru lebih banyak mengabaikan penguasaan aspek keterampilan komunikasi baik lisan maupun tulisan dalam bahasa Inggris. Pendekatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas sangat berpusat pada guru (teacher-centered classroom). Hal ini berbeda dengan negara-negara barat yang menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (English as Second Language; ESL), seperti Perancis, Jerman, Italia dan sebagainya. Pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang mereka terapkan banyak menekankan pada kemampuan berfikir kritis, penggunaan bahasa yang realistis, pembelajaran bahasa yang berpusat pada siswa (student-centered classroom) dan menekankan pula pada kualitas proses pembelajaran (Wang:2006). Secara lebih spesifik, pembelajaran bahasa Inggris di dunia barat tidak banyak menekankan pada aspek hafalan dan transfer pengetahuan bahasa seperti yang terjadi di Indonesia. Para guru di negara-negara barat lebih banyak percaya bahwa pendekatan yang mereka gunakan itu akan menkondisikan siswa untuk berfikir kritis yang memungkinkan untuk menciptakan banyak pengetahuan baru bagi siswa.

 

1.2. Perumusan Masalah

1) Apa saja pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran?

2) Jenis-jenis metode apa yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris?

3) Bagaimana prosedur pembelajaran bahasa Inggris?

 

1.3  Tujuan Penulisan

Agar mengetahui metode-metode dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris.

 

1.4   Metode penulisan

Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan metode studi literatur, yaitu mengumpulkan data-data dari berbagai sumber.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

2.1 PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

Pendekatan pembelajaran secara umum dibagi menjadi 3 macam pendekatan pembelajaran:

  1. Pembelajaran Secara Individual

Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual, guru memberi bantuan kepada masing-masing pribadi. Sedangkan pada pembelajaran klasikal, guru member bantuan secara umum. Sebagai ilustrasi, bantuan guru kelas tiga kepada siswa yang membaca dalam hati dan menulis karangan adalah pembelajaran individual. Pada membaca dalam hati secara individual siswa menemukan kesukaran sendiri-sendiri. ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii) siswa sebagai subjek yang belajar, (iii) guru sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran, serta (v) orientasi dan tekanan utama dalam peaksanaan pembelajaran.

  1. Tujuan pembelajaran secara individual

Perilaku belajar mengajar di sekolah yang menganut system klasikal tampak serupa. Dalam kelas tampak siswa yang rata-rata berjumlah 40 an orang. Guru membantu siswa yang menghadapi kesukaran. Adapun tujuan pembelajaran yang menonjol adalah : (1) pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri; dalam pengajaran klasikal guru menggunakan ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pengajaran individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual, sedangkan pada pengajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan kemampuan rata-rata kelas. Siswa menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas. (2) pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. Tiap individu memiliki paket belajar sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga.

  1. Peran siswa dalam pembelajaran secara individual

Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral. Pebelajar merupakan pusat layanan pengajaran. Berbeda dengan pengajaran klasikal, maka siswa memiliki keleluasaan berupa (i) keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri, (ii) kebebasan menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya, (iii) keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, (v) siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta (vi) siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.

 

  1. Peran guru dalam pembelajaran secara individual

Kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa (i) perencanaan kegiatan belajar, (ii) pengorganisasian kegiatan belajar, (iii) penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan (iv) fasilitas yang mempermudah belajar.            Dalam pengajaran klasikal pada umumnya peranan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Hal ini tidak terjadi dalam pembelajaran individual. Perenan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut : (i) membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai kemampuan siswa, (ii) membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan criteria keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar, (iii) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, dan (iv) membantu siswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri. sebagai ilustrasi, guru membantu memilih program belajar dengan suatu modul. (Tjipto Utomo & Kees, Ruijter, 1990: 69-83.)

Peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir. Peranan guru sebagai berikut: (i) memberikan orientasi umum sehubungan dengan belajar topic tertentu, (ii) membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan, (iii) mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv) membagi perhatian pada sejumlah pebelajar, menurut tugas dan kebutuhan pebelajar, (v) memberikan balikan terhadap setiap pebelajar, dan (vi) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja; unjuk kerja hasil belajar tersebut umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar.
Peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar.

  1. Program pembelajaran dalam pembelajaran secara individual

Program pembelajaran individual merupakan usaha mem perbaiki kelemahan pengajaran klasikal. Dari segi kebutuhan pebelajar, program pembelajaran individual lebih efektif, sebab siswa belajar sesuai dengan programnya sendiri. Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah pebelajar, tampnk kurang efisien. Jumlah siswa sebesar empat puluh orang mem inta perhatian besarguru, dan hal itu akan melelahkan guru.

Dari segi usia perkembangan pebelajar, maka program pem belajaran individual cocok bagi siswa SLTP ke atas. Hal ini disebabkan oleh (i) umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, (ii) siswa mudah memahami petunjuk atau perintah dengan baik, dan (iii) siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik.

Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk diprogramkan secara individual. Bidang studi yang dapat diprogramkan secara individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA, dan IPS bagi bahan ajaran tertentu. Bagi bidang studi musik, kesenian, dan olah raga yang bersifat perorangan, juga cocok untuk program pembelajaran individual.

Program pembelajaran individual dapat dilaksanakan secara efektif, bila mempertimbangkan hal-hal berikut, (i) disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. (ii) tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa, (iii) prosedur dan cara kerja dimengerti oleh siswa, (iv) kriteria keberhasilan dimengerti oleh siswa, dan (v) keterlibatan guru dalam evaluasi dimengerti siswa.

  1. Orientasi dan tekanan utama pelaksanaan

Program pembelajaran individual berorientasi pada pemberian bantuan kepada se:iap siswa agar ia dapat belajar secara mandiri. Kemandirian belajar tersebut merupakan tuntutan perkembangan individu. Dalam menciptakan pembelajaran individual, rencana guru berbeda dengan pengajaran klasikal. Dalam pelaksanaan guru berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar, dan rekan diskusi. Guru berperan sebagai guru pendidik, bukan instruktur.

 

  1. Pembelajaran Secara Kelompok

Dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas adakalanya guru membentuk kelompok kecil. Kelompok tersebut umumnya terdiri dari 3-8 orang siswa. Dalam pembelajaran kelompok kecil, guru memberikan bantuan atau bimbingan kepada tiap anggota kelompok lebih intensif. Hal ini dapat terjadi, sebab (i) hubungan antarguru-siswa menjadi lebih sehat dan akrab, (ii) siswa memperoleh bantuan, kesempatan, sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan minat, serta (iii) siswa dilibatkan dalam penentuan tujuan belajar, cara belajar, kriteria keberhasilan. Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran sfccara kelompok dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii) pebelajar, (iii) guru sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran, dan (v) orientasi dan tekanan utama pelaksanaan pembelajaran. Uraian selanjutnya di bawah ini:

  1. Tujuan pengajaran pada kelompok kecil

Pembelajaran kelompok kecil merupakan perbaikan dari kelemahan pengajaran klasikal. Adapun tujuan pengajaran pada pembelajaran kelompok kecil adalah (i) memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, (ii) mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong-royong dalam kehidupan, (iii) mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota mcrasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung jawab, dan (iv) mengembangkan kemampuan kepemimpinan-keteipimpinan pada tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok. Sebagai ilustrasi, lomba karya tulis ilmiah kelompok di SMA menimbulkan kerja sama tim, dan sekaligus kompetisi sehat antar-kelompok (Joyce, Bruce & Weil, Marsha, 1980).

  1. Peran siswa dalam pembelajaran kelompok kecil

Siswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang belajar untuk memecahkan masalah kelompok. Kelompok kecil merupakan satuan kerja yang kompak dan kohesif.

Ciri-ciri kelompok kecil yang menonjol sebagai berikut: (i) tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok, (ii) tiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok, (iii) memiliki rasa saling membutuhkan dan saling tergantung, (iv) ada interaksi dari komunikasi antaranggota, serta (v) ada tindakan bersama sebagai perwujudan tcji^gung jawab kelompok.

Dari segi individu, keanggotaan siswa dalam kelompok kecil merupakan pemenuhan kebutuhan berasosiasi. Tiap siswa dalam kelompok kecil menyadari bahwa kehadiran kelompok diakui bila kelompok berhasil memecahkan tugas yang dibebankan. Dalam hal  ini timbullah rasa bangga dan rasa “memiliki” kelompok pada tiap anggota kelompok. Siswa berbagi tugas, tetapi merasa satu dalam semangat kerja.

Siswa dalam kelompok kecil berperan serta dalam tugas-tugas kelompok. Agar kelompok kecil berperan konstruktif dan produktif, diharapkan (i) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota kelompok; dalam hal ini tindakan individual selalu diperhitungkan sebagai anggota kelompok, (ii) siswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab, (iii) tiap anggota kelompok membina hubungan akrab yang mendorong timbulnya semangat tim, dan (iv) kelompok mewujud dalam satuan kerja yang kohesif.

Berkelompok memang merupakan kebutuhan individu sebagai makhluk sosial. Meskipun demikian bertugas dalam suatu kelompok memang harus dididikkan. Dalam berkelompok, maka siswa dididik mewujudkan cita kemanusiaan secara objektif dan benar. Sebagai ilustrasi, regu bola voli SMP akan berjuang memenang-kan kejuaraan lomba voli, sejak tingkat kelas, sekolah SMP sekota, seprovinsi, sampai tingkat nasional. (Schein, 1991 : 205-209.)

  1. Peran guru dalam pembelajaran kelompok

Pembelajaran kelompok bermaksud menimbulkan dinamika kelompok agar kualitas belajar meningkat. Dalam pembelajaran kelompok jumlah siswa yang bemiutu diharapkan menjadi lebih banyak. Bila perhatian guru dalam pembelajaran individual tertuju pada tiap individu, maka perhatian guru dalam pembelajaran kelompok tertuju pada semangat kelompok dalair memecahkan masalah. Anggota kelompok yang “berkemampuan tinggi” dijadikan motor penggerak pemecah masalah kelompok.

Peranan guru dalam pembelajaran kelompok terdiri dari (i) pembentukan kelompok, (ii) perencanaan tugas kelompok, (iii) pelaksanaan, dan (iv) evaluasi hasil belajar kelompok.

Pembentukan kelompok kecil merupakan kunci keberhasilan belajar kelompok. Tidak ada pedoman khusus tentang pembentukan kelompok yang jelas. Meskipun demikian ada hal yang patut dipenimbangkan. Pertimbangan pembentukan adalah (i) tujuan yang akan diperoleh siswa dalam berkelompok; sebagai ilustrasi untuk meningkatkan kualitas hasil belajar, pcmbinaan disiplin kerja beregu, peningkatan kecepatan dan ketepatan kerja, latihan bergotong-royong, (ii) latar belakang pengalaman siswa, dan (iii) minat atau pusat perhatian siswa. Dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan, maka guru dapat merekayasa kelompok kecil sebagai alat mendidik tiap anggota kelompok.

Perencanaan tugas kelompok perlu disiapkan oleh guru. Bila di kelas ada delapan kelompok kecil misalnya, maka perlu direncanakan 4-8 tugas. Tugas kelompok dapat paralel atau komplementer. Tugas paralel berarti semua kelompok bertugas yang sama. Sedangkan tugas komplementer berarti kelompok saling melengkapi pcmecahan masalah. Jika guru menghendaki tugas komplementer berarti hams membual beberapa satuan rencana pengajaran. Penyiapan tempat kerja, alat, dan sumber belajar, maupun jadwal penyelenggaraan tugas juga harus direncanakan. Dalam perencanaan tugas kelompok tersebut siswa sebaiknya diikutsertakan.

Dalam pelaksanaan mengajar, guru dapat berperan sebagai berikut; (i) pemberi informasi umum tentang proses belajar kelompok; guru memberi informasi lentang tujuan belajar, tata kerja, kriteria keberhasilan belajar, dan evaluasi, (ii) setelah kelompok memahami tugasnya, maka kelompok melaksanakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator. pembimbing, dan pengendali ketertiban kerja, (iii) pada akhir pelajaran, tiap kelompok melaporkan hasil kerja, dan (iv) guru melakukan evaluasi tentang proses kerja kelompok sebagai satuan, hasil kerja, perilaku dan tata kerja, dan membandingkan dengan kelompok lain. Dalam evaluasi pada tempatnya siswa juga diikutsertakan. Sebagai ilustrasi kelas satu SMP belajar tentang topik “koperasi angkutan kota” di kota A. Guru menginformasikan bahwa anggota koperasi angkutan tersebut terdiri dari pcmilik kcndaraan dan sopir angkutan. Kelas dibagi menjadi lima kelompok belajar, sesuai dengan hal yang diurusi koperasi. Hal-hal yang diurusi adalah kesejahteraan anggota, pemeliharaan kendaraan, jaringan angkutan, pendidikan anggota, dan lainnya. Tiap siswa dalam kelompok mempelajari hal tertentu. Siswa mempelajari topik tersebut selama empat minggu belajar. Pada minggu kelima diadakan laporan hasil kerja kelompok dan diskusi kelas. Guru, kelompok, dan anggota kelompok melakukan evaluasi hasil kerja kelompok.

Program pembelajaran kelompok memberikan tekanan utama pada peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok. Kelas yang berisi empat puluhan siswa adalah kelompok besar. Bagi guru, perhatian terhadap empat puluhan siswa dalam waktu serempak bukanlah mudah. Pembelajaran kelompok kecil merupakan strategi pembelajaran “antara” untuk memperhatikan individu. Pembelajaran kelompok dapat ditempuh gum dengan jalan (i) membagi kelas ke dalam beberapa kelompok kecil; sebagai ilustrasi empat puluh siswa dibagi dalam delapan kelompok kecil, atau (ii) membagi kelas dengan memberi kesempatan untuk belajar perorangan dan berkelompok kecil; dalam hal ini guru perlu mencegah terjadinya perilaku siswa sebaeai parasit belajar, dan ketakmampuan kerja kelompok.

Pada pembelajaran kelompok, orientasi dan tekanan utama pelaksanaan adalah peningkatan kemampuan kerja kelompok. Kerja kelompok berarti belajar kepemimpinan dan keterpimpinan. Kedua keterampilan tersebut, memimpin dan terpimpin, perlu dipelajari oleh tiap siswa. Dalam masyarakat modern keterampilan memimpin dan terpimpin diperlukan dalam kehidupan.

  1. Pembelajaran Secara Klasikal

Pembelajaran klasikal merupakan kemampuan guru yang utama.. Hal itu disebabkan oleh pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas lebih murah. Oleh karena itu adajumlah minimum siswa dalam kelas. Jumlah siswa tiap kelas pada umumnya berkisar dari 10 – 45 orang.

Dengan Jumlah tersebut seorang guru masih dapat membelajarkan siswa secara bertiasil. Pembelajaran kelas berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu (i) pengelolaan kelas, dan (ii) pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masaiah yang bersumber dari (i) kondisi tempat belajar, dan (ii) siswa yang teriibat dalam bclajar. Kondisi tempat belajar yang berupa ruaj.g kotor, papan rulis njsak, meja-kursi rusak misalnya, dapat mengganggu belajar. Sedangkan masaiah siswa dapat berupa masaiah individual atau kelompok. Gangguan belajar di kelas dapat berasal dari seorang siswa atau sekelompok siswa. Sudah tentu, guru dituntut berketerampilan mcng.’itasi gangguan belajar dari siswa. Dalam hal ini, guru dapat mcnggunakan teknik-teknik penguatan agar ketertiban belajar terwujud.

Pengelolaan pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Peran guru dalam pembelajaran secara individual dan kelompok kecil berlaku dalam pembelajaran secara klasikal. Tekanan utama pem belajaran adalah seluruh anggota kelas. Di samping penyusunan desain instniksional yang dibuat, maka pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan tindakan sebagai berikut: (i) penciptaan tertib belajar di kelas, (ii) penciptaan suasana senang dalam belajar, (iii) pemusatan perhatian pada bahan ajai”, dan (iv) mengikutsertakan siswa belajar aktif, (v) pengorganisasian belajar sesuai dengan kondisi siswa. Dalam pembelajaran kelas, guru dapat mengajar seorang diri atau bertindak sebagai tim pembelajar. Bila guru menjadi tirn pembelajar, maka asas tim pembelajar harus dipatuhi. Tim pembelajar perlu menyusun desain pembelajaran kelas secara baik.

 

2.1  Metode Pembelajaran Bahasa Inggris

1. Metode Langsung (Direct Method)

Direct artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain.

Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya.

Demikian halnya kalau kita perhatikan seorang ibu mengajarkan basah kepada anak-anaknya langsung dengan mengajarinya, menuntunnya mengucapkan kata per kata, kalimat per kalimat dan anaknya menurutinya meskipun masih terihat lucu. Misalnya ibunya mengajar “Ayah” maka anak tersebut menyebut “Aah” dan seterusnya. Namun lama kelamaan si anak mengenali kata-kata itu dan akhirnya ia mengerti pula maksudnya

Pada prinsipnya metode langsung (direct method) ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menuirukannya, tapi adalah menarik bagi anak didik.

  • Ciri-ciri metode ini adalah :

(1)   Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata

(2)   Struktur kalimat gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu

(3)   Siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utama adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik

(4)   Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (bnda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu setelah masuk kelas

(5)   Siswa atau anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.

  • Kelebihan metode langsung (Direct) dilihat dari segi efektivitasnya :

(1)   Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan karena metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.

(2)   Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga : apakah video, film, radio kaset, tape recorder, dan berbagaimedia/alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang/tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit

(3)   Siswa memperoleh pengalaman langsung danpraktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya
Alat ucap / lidah siswa/anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan

  • Kekurangan metode langsung (Direct)

(1)   Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidakdapat memotivasi siswa, bahkan mungkin sekali siswa merasa jenuh dan merasa dfongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak pernah dapat dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.

(2)   Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti
Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik.

(3)   Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat permulaan maupun atas karena si siswa merasa telah memiliki bahan untuk bercakap/cercicara dan tentu saja agar siswa betul-betul merasa tertantang untuk bercakap/berkomunikasi; maka sanksi-sanksi dapat ditetapkan bagi mereka yang menggunakan bahasa sehari-hari.

2.      Metode Berlitz (Berlitz Method)

Metode Berlitz (Berlitz Metode) adalah metode langsung (Direct Method) yang selalu digunakan di sekolah-sekolah Berlitz sebagai metode utama. Semua sekolah-sekolah Berlitz menggunakan metode langsung (direct Method) ini dalam pengajaran bahasa-bahasa asing di sekolahnya dan banyak lagi sekolah-sekolah lain di Amerika dan Eropa yang secara rutin menerapkan metode ini.

3. Metode Alami (Natural Method)

Metode alami (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses belajar, siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Dalam pelaksanaannya metode ini tidak jauh berbeda dengan metode langsung (direct) dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal-hal tertentu di mana kamus dan bahasa anak didik dapat digunakan.

  • Ciri Metode Natural ini antara lain :

(1)   Urutan pelajaran mula-mula diberikan melalui menyimak/mendengarkan (listening) baru kemudian percakapan (speaking), membaca (reading) menulis atau (writing) terakhir baru gramatikal.

(2)   Pelajaran disajikan mula-mula memperkenalkan kata-kata yang sederhana yang telah diketahui oleh anak didik, kemudian memperkenalkan benda-benda mulai dari benda-benda yang ada di dalam kelas, dirumah dan luar kelas, bahkan mengenal luar negeri atau negara-negara asing terutama Timur Tengah.

(3)   Alat peraga dan kamus yang dapat digunakan sewaktu-waktu sangat diperlukan, misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata-kata sulit dalam bahasa asing, dan memperbanyak perbendaharaan kata-kata atau memperkaya Vocabulary sebagai syarat utama menguasai bahasa asing.

Oleh karena kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap-cakap sangat diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan.

  • Kebaikan Metode Natural, antara lain :

(1)   Pada tingkat lanjutan metode ini sangat efektif, karena setiap individu siswa dibawa ke dalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendnegarkan dan menggunakan percakapan dalam bahasa asing.

(2)   Pengajaran membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa asing sangat diutamakan, sedangkan pelajaran gramatika diajarkan sewaktu-waktu saja.

(3)   Pengajaran menjadi bermakna dan mudah diserap oleh siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari-hari) siswa/anak didik

  • Kekurangan metode ini antara lain :

(1)   Siswa merasa kesulitan belajar apabila belum memiliki bekal dasar bahasa asing terutama pada pada tingkat-tingkat pemula, sehingga penggunaan/ pemakaian bahasa asli siswa tidak dapat dihindari. Dengan demikian tujuan semua dari metode ini untuk membaca dan bercakap-cakap selalu dalam bahasa asing sulit diterapkan secara murni, tapi harus diterapkan secara konsekuen

(2)   Pada umumnya anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan sesuatu hal yang salah secara alamiah yang amat perlu diubah pada umumnya pengajaran bahasa asing di sekolah-sekolah kita sangat terasa kekurangan macam-macam media/alat peraga yang diperlukan; yang seyogyanya para guru harus aktif membuatnya

(3)   Guru yang kurang memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut. Guru haruslah seorang yang aktif berbicara di dalam bahasa asing tersebut, barulah murid-muridnya akan mampu pula aktif di dalam belajar (praktek) bahasa.

4. Metode Percakapan (Conversation Method)

Yaitu mengajarkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Arab atau bahasa-bahasa lainnya yang cara langsung mengajak murid-murid bercakap-cakap/berbicara di dalam bahasa asing yang sedang diajarkan ini. Tentunya dimulai dengan kata-kata atau kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan yang biasa berlaku pada kegiatan-kegiatan sehari-hari, seperti : Good Morning, How are you? What are you doing? Can you speak English? Dan sebagainya; atau kalimat-kalimat, percakapan di dalam kelas di sekitar sekolah, dirumah di kantor  dan sebagainya; semakin lama semakin meluas dan beragam.

Yang namanya berbahasa itu ialah berbicara (sebagai fungsi pokok bahasa); peran kedua barulah membaca/memahami tulisan atau buku. Jadi fungsi utama belajar bahasa asing itu ialah kemampuan berbahasa aktif, berkomunikasi lisan atau bercakap-cakap. Itulah tujuan utama atau target pokok mempelajari bahasa asing, disusul dengan kemampuan membaca dan memahami atau penguasaan pasif. Oleh karena itu, metode utama dan pertama di dalam kegiatan belajar mengajar bahasa asing itu semestinya adalah Metode Percakapan (Conversation Method). Metode ini disejalankan dengan Direct Method dan Natural Method, yang pelaksanaanya dengan menerapkan fungsi dan prinsip-prinsip ketentuan dari tiap-tiap metode ini.

Jadi disamping metodenya yang serasi, medianya dan buku-buku yang lengkap, gurunya punya kepabelitas tinggi, muridnya pun perlu bersungguh-sungguh belajar serta cerdas. Tanpa keempat syarat tersebut terpenuhi maka orang bertahun-tahun bahkan belasan tahun belajar bahasa asing.

5. Metode Phonetic (Mendengar dan Mengucapkan)

Metode ini mengutamakan ear training dan speak training yaitu cara menyajikan pelajaran bahasa asing melalui latihan-latihan mendengarkan kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata dan kalimat dalam bahasa asing yang sedang dipelajari.

Metode Phonetic ini dapat dikatakan gabungan dari dua metode Natural dan Reading diatas. Dimana mula-mula menurut metode ini pelajaran dimulai dengan latihan-latihan mendengar kemudian diikuti dengan latihan-latihan mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat dalam bahasa asing. Kemudian disusul latihan-latihan membaca (reading and conversation).

  • Langkah-langkah pelaksanaan metode ini yang dapat dilakukan :

(1)   Guru membacakan bacaan-bacaan bahasa asing di depan kelas, atau membuka/menghidupkan acara bacaan berupa radio kaset/video, siswa mendengarkan dan memperhatikan baik-baik acara bacaan ini dengan cermat, serius (tidak ada yang main-main saat pembacaan itu), siswa harus memperhatikan betul langgam dan intonasi, serta gerak-gerik bentuk mimik tertentu dalam bacaan

(2)   Seri-seri dalam bacaan itu hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi bahan bacaan yang sempurna/berkelanjutan guru dapat menghentikan seri-seri tertentu jika seri pelajaran tersebut sudah dianggap selesai dan dikuasai oleh anak didik, kemudian dapat dilanjutkan pada session/seri berikutnya setelah pelajaran membaca selesai, maka latihan percakapan dapat dilakukan. Misalnya percakapan-percakapan yang sifatnya mula-mula sederhana, setelah itu menuju pada percakapan yang kompleks/lebih sulit

(3)   Untuk memperjelas ucapan dan percakapan, maka metode ini dianjurkan untuk menggunakan alat peraga/media pengajaran pada setiap akhir materi pelajaran, guru hendaknya memberikan latihan-latihan praktis membaca dan larihan bercakap-cakap pada masing-masing anak didik, dan jangan lupa guru dapat memberikn berbagai catatan-catatan khusus, kesimpulan-kesimpulan dan juga nasihat-nasihat berupa dorongan (memberi motivasi bagi anak didik) supaya belajar sungguh-sungguh, rajin dan rutin tiap hari latihan (PR)

  • Kelebihan Metode Phonetic :

(1)   Metode ini mengajarkan kemampuan membaca anak didik dengan lancar dan fasih sekaligus kemampuan percakapan

(2)   Banyak latihan-latihan dialog dan menulis (dikte)

(3)   Siswa menyimak kesalahan bacaan dan percakapan dari guru atau teman sekelasnya, untuk kemudian diubah dan diperbaiki letak-letak kesalahannya itu

  • Kekurangan Metode Phonetic

(1)   Metode ini memerlukan kesungguhan dan keahlian (profesional) dari pihak guru. Disamping perencanaan dan waktu harus matang pada tingkat-tingkat pemula (pertama) metode ini masih sulit diterapkan, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki bekal (basic) bahasa asing yang cukup memadai, sebab itu perlu memotivasi murid dan mengajar secara komunikatif

(2)   Jika seri-seri pelajaran tidak disusun dan direncanakan sedemikian rupa, maka pelajaran dan penguasaan materi bagi siswa menjadi mengambang; misalnya materi pelajaran membaca diberikan sedikit, juga percakapan pun serba tanggung. Oleh sebab itu pengaturan waktu dan materi hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga keduanya dikuasai

6. Metode Practice – Theory

Metode ini sesuai dengan namanya, lebih menekankan pada kemampuan praktis dari teori. Perbandingan dapat berupa 7 unit materi praktis dan 3 unit materi yang bersifat teoritis. Belajar bahasa asing lebih dulu dan mengutamakan praktek, lalu diiringi dengan teori (tata bahasa). Jadi disini yang dipentingkan adalah bagaimana siswa/anak didik dapat mampu berbahasa asing itu secara praktis bukan teoritis. Oleh sebab itu pengajaran harus diarahkan pada kemampuan komunikatif atau percakapan, sedangkan gramatika dapat diajarkan sambil lalu saja.

Pada tingkat-tingkat awal materi pelajaran praktis dapat dipilih dan diterapkan pada hal-hal yang sederhana, apakah itu lewat percakapan sehari-hari yang ada hubungannya dengan dunia sekolah anak didik atau lingkungan rumah tangga dan masyarakat lebih luas atau dapat pula menyebutkan rincian nama-nama benda dan kata kera sebagai dasar pembentukan bahasa percakapan. Sedangkan pada tingkat lanjutan atas materi pelajaran dikembangkan lebih luas dan kompleks melalui percakapan teoritis dan penalaran ilmiah.

  • Kelebihan-kelebihan Metode Practice-Theory :

(1)   Siswa memperoleh ketrampilan langsung atau praktis dalam berbahasa asing

(2)   Siswa merasa tidak dipusingkan oleh aturan-aturan atau kaidah-kaidah gramatikal karena pelajaran gramatikal hanya diajarkan sambil lalu, sebagai penajam pemahaman

(3)   Pengajaran dapat dinamis (hidup) dan menyenangkan, apalagi sesekali guru dapat menyelingi dengan percakapan lucu dan media peragaan yang menarik
Paling sesuai dengan alamiah tujuan pengajaran bahasa : yang disebut berbahasa itu ialah berbicara, berkomunikasi lisan

  • Kekurangan Metode Ptactice Theory

(1)   Memerlukan guru yang betul-betul mahir dan aktif berbahasa asing

(2)   Pada tingkat-tingkat dasar (awal) metode ini masih sulit diterapkan karena perbendaharaan kata dan bahasa anak didik masih terbatas, bahkan terasa kaku

(3)   Guru harus memperbanyak menghafalkan pola-pola kalimat yang baik kepada murid-murid

(4)   Pada umumnya kemampuan aplikatif bahasa asing anak didik sangat ditentukan oleh faktor motivasi dari pihak guru disamping gaya dan simpatik kepribadian guru, dan ini jarang dimiliki dalam satu pribadi guru. Guru perlu sering memotivasi anak didik disela-sela mengajar bahasa asing (Inggris/Arab)

(5)   Kekurangan media peraga sebagai penguat persepsi dan ingatan

 

7. Metode Membaca (Reading Method)

Metode membaca (Reading Method) yaitu menyajikan materi pelajaran dengan cara lebih dulu mengutamakan membaca, yakni guru mula-mula membacakan topik-topik bacaan, kemudian diikuti oleh siswa anak didik. Tapi kadang-kadang guru dapat menunjuk langsung anak didik untuk membacakan pelajaran tertentu lebih dulu, dan tentu siswa lain memperhatikan dan mengikutinya. Teknik metode membaca (Reading Method) ini dapat dilakukan dengan cara guru langsung membacakan materi pelajaran dan siswa disuruh memperhatikan/ mendengarkan bacaan-bacaan gurunya dengan baik, setelah itu guru menunjuk salah satu di antara siswa untuk membacakannya, dengan jalan berganti-ganti (bergiliran).

Setelah masing-masing siswa mendapat giliran membaca, maka guru mengulangi bacaan itu sekali lagi dengan diikuti oleh semua siswa hal ini terutama pada tingkat-tingkat pertama; lalu kemudian guru mencatatkan kata-kata sulit atau baru yang belum diketahui siswa di papan tulis untuk dicatat di buku catatan untuk memperkaya perbendaharaan kata-kata dan begitulah selanjutnya, hingga selesai topik-topik yang telah ditetapkan/ditentukan.

  • Kebaikan Metode Reading/Membaca

(1)   siswa dapat dengan lancar membaca dan memahami bacaan-bacaan berbahasa asing dengan fasih dan benar

(2)   Siswa dapat menggunakan intonasi bacaan bahasa asing sesuai dengan kaidah membaca yang benar

(3)   Tentu saja dengan pelajaran membaca tersebut siswa diharapkan mampu pula menerjemahkan kata-kata atau memahami kalimat-kalimat bahasa asing yang diajarkan, dengan demikian pengetahuan dan penguasaan bahasa anak menjadi utuh

  • Kekurangan Metode Reading/Membaca

(1)    untuk tingkat-tingkat pemula terasa agak sukar diterapkan, karena siswa masing sangat asing untuk membiasakan lidahnya, sehingga kadang-kadang harus terpaksa untuk berkali-kali menuntun dan mengulang-ulang kata dan kalimat yang sulit ditiru oleh lidah siswa yang bukan dari bahasa asing yang sedang diajarkan. Dan dengan demikian metode ini relatif banyak menyita waktu.

(2)    Dilihat dari segi penguasaan bahasa, metode reading lebih menitikberatkan pada kemampuan siswa untuk mengucapkan/melafalkan kata-kata dalam kalimat-kalimat bahasa asing yang benar dan lancar. Adapun arti dan makna kata dan kalimat kadang-kadang kurang diutamakan. Hal ini dapat berarti pengajaran terlalu bersifat Verbalisme

(3)    Pengajaran sering terasa memboankan, terutama apabila guru yang mengajarkan tidak simpatik/metode diterapkan secara tidak menarik bagi siswa

(4)    Dari segi tensi suarapun kadang-kadang cukup menjenuhkan karena masing-masing guru dan siswa terus-menerus membaca topik-topik pelajaran.

Oleh karena metode ini memiliki segi kekurangan yang berarti, maka perlu diperhatikan hal-hal yang berikut :

1)      Hendaknya pokok-pokok materi yang akan disajikan senantiasa disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa pada tingkat tertentu.

2)      Pilih topik dan materi pelajaran yang menarik hati bagi para siswa/yang sesuai dengan keinginan jiwa mereka

3)      Untuk menghindari verbalisme dalam pengajaran maka guru hendaknya dapat mengartikan/menerjemahkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang belum dimengerti/pahami siswa dalam bacaan-bacaan tersebut

4)      Pada umumnya alat peraga/media pengajaran berupa pengeras suara, radio tape/kaset, video dan alat-alat sejenisnya sangat membantu mempercepat/ memperlambat lidah/bacaan siswa. Disamping itu dengan alat peraga, pengajaran menjadi menarik dan tidak membosankan. Buku-buku bacaan dapat dipilih dan disusun sedemikian rupa hingga menarik/menyenangkan siswa. Pada umumnya bacaan berupa novel, cerpen (cerita-cerita), pepatah, hikmah-hikmah dalam bahasa asing, ilmu pengetahuan dan lain-lain sangat menarik untuk bahan bacaan, terutama pada tingkat-tingkat pemula; pada tingkat-tingkat lanjutan bacaan-bacaan dapat diarahkan pada yang bersifat ilmiah/pemikiran.

 

8. Metode Bicara Lisan (Oral Method)

Metode ini adalah hampir sama dengan metode phonetic dan reform method, tetapi pada orak method adalah menitikberatkan pada latihan-latihan lisan atau penuturan-penutuan dengan mulut. Melatih untuk bisa lancar berbicara (fluently), keserasian dan spontanitas. Melatih lisan/mulut agar pengucapan bahasa asing itu bisa tepat bunyi, tidak kedengaran janggal. Latihan-latihan Sistem bunyi melalui bibir, melatih tepatnya keluarnya huruf-huruf kerongkongan, huruf-huruf di ujung atau di pangkal lidah dan sebagainya.

Latihan-latihan menyusun kata-kata membuat kalimat sendiri dan sebagainya, semua dilakukan dengan mengaktifkan bicara lisan, oral, speaking. Target yang hendak dicapai melalui metode ini ialah kemampuan dan kelancaran berbahasa lisan atau berbicara lisan atau berkomunikasi langsung sebagai fungsi utama bahasa.

Prinsip metode ini ialah : Teach the language, don’t teach only about the language.

 
9. Metode Praktek Pola-pola Kalimat (Pattern-Practice Method)

Penerapan terpenting metode ini ialah dengan melatih murid-murid secara praktek langsung mengucapkan pola-pola kalimat yang sudah tersusun baik betul, atau mengerjakan sebagaimana yang dimaksud oleh pola kalimat tersebut. Jadi pola-pola kalimat yang mengandung arti, telah lebih dulu disediakan atau disusun secara serasi dari yang mudah, secara berangsung-angsur sampai sulit; dan bahan perbendaharaan kata-kata yang sederhana sampai yang rumit. Murid-murid memang harus aktif mengucapkan, melakukan sampai menjadi kebiasaan, sehingga menghayati pola-pola kalimat tersebut sampai membudaya.

Semestinya guru itu adalah seorang Bilingual (yang mengusai dua bahasa atau lebih sampai dihayati), yakni bahasa asing yang diajarkan dan bahasa Indonesia, dengan kemampuan yang sebenar-benarnya. Pertama-tama guru membanding-bandingkan kedua bahasa, misalnya bahasa Arab dengan bahasa Indonesia, tentang kata-kata yang sama, cara-cara pengucapan sistem tata bahasa, arti, bunyi dan seterusnya dan memberi penjelasan-penjelasan. Dari bahasa dwi-bahasa (bilingual) diuraikan dan dipilih pola-pola kalimat dengan bunyi-bunyi tertentu untuk mater drill atau bahan-bahan latihan yang intensif. Susunlah pola-pola kalimat yang baik, dan ditambah terus perbendaharaan kata-kata, sehingga menggarkan sesuatu situasi atau cerita. Latihlah secara berulang-ulang dan sampai setiap siswa mendapat giliran. Para siswa dilatih mengucapkan pola-pola kalimat sampai benar-benar memahami dan menghayati arti/maksudnya serta hafal-lancar tanpa berpikir-pikir menyusun kalimat sendiri.

Setelah itu murid-murid perlu dilatih pula Listening untuk mencapai kepekaan pendengaran (Listening, dll). Seterusnya latihan-latihan speaking (speaking drill) untuk kelancaran berbicara, reading drill untuk mencapai bacaan-bacaan yang betul, dan Writing Drill yakni latihan-latihan menulis secara benar, menghindarkan salah-salah di dalam menulis ejaan atau huruf. Latihan-latihan listening, speaking, reading and writing ini amat diperlukan mengiringi pada hampir semua macam metode mengajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan Arab. Metode ini seperti yang dipraktekkan pada buku-buku pelajaran bahasa Inggris antara lain English 900, English 901 dan sebagainya dan dianggap sebagai yang paling sesuai dengan alamiah pengajaran bahasa asing.

 

2.3 Pendekatan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Inggris

Pembelajaran bahasa dan sastra Inggris memliki beberapa macam pendekatan, diantaranya adalah pendekatan pembelajaran dengan Jigsaw. Metode pengajaran dengan Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan rekan-rekannya. Ada dua macam Jigsaw, yaitu Jigsaw Orisinal dan Jigsaw II. Jigsaw II dinilai lebih praktis dan mudah (Slavin, 2008:237). Oleh karena itu paparan ini menggunakan penerapan metode Jigsaw II dengan beberapa modifikasi yang disesuaikan.

Menurut Arends (2001:323), model jigsaw bercirikan pembagian kelas dalam beberapa kelompok yang biasanya masing-masing terdiri dari enam anggota. Tiap kelompok atau tim bertanggung jawab pada penguasaan sebuah materi yang ditugaskan dan berkewajiban untuk mengajarkan bagian materi penguasaan tersebut kepada anggota timnya.

Dengan menggunakan Jigsaw, mahasiswa akan memperoleh manfaat dari berbagai tujuan pembelajaran mulai dari tujuan kognitif (academic achievement), tujuan sosial/bermasyarakat (group work and cooperation), dan rasa saling ketergantungan (interdependence). Tentu saja kelompok atau tim yang akan dibentuk setidaknya memenuhi persyaratan tim yang baik, yaitu mempertimbangkan aspek gender, etnis, suku, dan kemampuan (pandai, rata-rata, dan lamban).

Menurut Arronson (2009), secara umum langkah-langkah pembelajaran model Jigsaw adalah sebagai berikut:

1. Pembagian kelas ke dalam kelompok-kelompok (masing-masing beranggotakan 5-6 orang).

2. Penunjukkan ketua kelompok dari masing-masing kelompok yang telah terbentuk untuk menjadi kelompok ahli (expert group)

3. Pemberian tugas yang berbeda (learning task) dari sebuah materi ajar kepada masing-masing kelompok.

4. Penjelasan ringkas mengenai tugas kepada masing-masing kelompok.

5. Kelompok-kelompok diberi waktu untuk mempelajari tugas-tugas yang diberikan.

6. Penjelasan khusus kepada kelompok ahli mengenai materi yang ditugaskan.

7. Kelompok ahli berpencar menuju ke kelompok asal masing-masing.

8. Masing-masing anggota dari kelompok ahli berusaha memberi pendapat yang sifatnya memotivasi dan mengarahkan kelompoknya menjawab soal-soal yang diberikan dalam tugas kelompok sambil berlatih untuk tampilan kelompok nanti.

9. Dosen berjalan berkeliling memastikan proses diskusi kelompok berjalan lancar.

10. Penampilan masing-masing kelompok dengan hasil diskusi kelompoknya masing-masing.

11. Penyimpulan hasil diskusi kelompok menjadi hasil diskusi kelas.

12. Penilaian (authentic assessment) dilakukan baik dalam bentuk on-going process evaluation atau kuis untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai.

  • Langkah-Langkah Pembelajaran Sastra dengan Model Jigsaw

Mengajarkan analisis puisi dengan model pembelajaran Jigsaw melalui tiga tahapan utama, yaitu tahap persiapan, tahap presentasi dan tahap penilaian. Tahap persiapan dinilai penting karena perencanaan yang baik sangat diperlukan bagi seorang dosen sebelum ia benar-benar terjun dalam kegiatan mengajar yang sesungguhnya. Finnochiario (1964:43) menyatakan bahwa persiapan adalah salah satu kegiatan penting yang harus dipertimbangkan oleh pengajar karena persiapan yang baik akan membawanya ke dalam keberhasilan meraih tujuan pembelajaran yang direncanakan.

Tahap presentasi adalah di mana dosen menyiapkan segala hal dengan cermat dan tepat dalam mempresentasikan materi pengajaran. Arends (2001:339) menggambarkan betapa pentingnya arti sebuah presentasi yang bagus oleh seorang pengajar. Hal ini akan memotivasi kelompok siswa berpartsipasi dalam kelompoknya. Akhirnya, tahap penilaian diperlukan untuk mengukur pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi ajar serta memberi umpan balik yang bersifat korektif (Arends, 2001:339).

1. Tahap Persiapan (Preparation Stage)

a. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Sesuai dengan apa yang disebutkan dalam manajemen kooperatif, perumusan tujuan pembelajaran sangat penting dalam sebuah fungsi perencanaan agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. Tujuan pembelajaran dari kelas ini merujuk pada indikator pembelajaran, yaitu penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata kuliah Introduction to Literature. Adapun tujuan pembelajarannya adalah sebagai berikut:

Jadi tujuan diterapkannya model pembelajaran kooperatif ini adalah untuk melihat kemampuan mahasiswa membuat analisis terhadap karya sastra (prosa, puisi dan drama) berdasar pada teori sastra tertentu. Secara lebih terperinci, tujuan pembelajaran kelas sastra ini adalah (1) mengenali unsur-unsur puisi dan (2) menganalisis unsur-unsur tersebut pada sebuah puisi berdasar pada teori sastra struktural.

b. Materi Pembelajaran

Pada saat memilih materi penting untuk dipertimbangkan materi yang benar-benar sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam hal ini materi yang diperlukan adalah materi yang mencakup unsur-unsur topik pembelajaran, fokus pada bahasa yang dipelajari, dan unsur sastra (Nunan, 1991:209).

Adapun langkah-langkah dalam pemilihan materi adalah sebagai berikut:

1) Memilih puisi yang sesuai dengan pencapaian tujuan pembelajaran dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Sastra (Introduction to Literature), yaitu mahasiswa dapat mengenali dan menyebutkan unsur-unsur pembangun puisi. Adapun puisi yang dipilih adalah puisi karya penyair Amerika Robert Frost yang berjudul “Stopping by Woods on a Snowy Evening”.

Stopping by Woods on a Snowy Evening

Whose woods these are I think I know

.His house is in the village, though;

He will not see me stopping here

To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer

To stop without a farmhouse near

Between the woods and frozen lake

The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake

To ask if there is some mistake.

The only other sound’s the sweep

Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark, and deep,

But I have promises to keep,

And miles to go before I sleep,

And miles to go before I sleep.

 

2) Membagi beberapa topik yang berbeda mengenai puisi yang dipilih. Topik-topik bahasan itu adalah sebagai berikut:

a) Ulasan cerita tentang puisi

b) Tema

c) Simbol-simbol

d) Meter, Rhythm, dan Rhyme

e) Metafora

 

3) Menyiapkan sekelompok pertanyaan dan kerangka bahasan bagi kelompok ahli. Adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut:

a) Ulasan cerita tentang puisi

Line 1 – 4

(1) In what season do you think it is?

(2) Where is the setting?

(3) Does the wood belong to someone? If it does, is the owner of the woods presented? Will he protest if the speaker trespasses?

Line 5 – 8

(1) Why does the speaker stop?

(2) Do you think the speaker can “understand” what his horse might “think”?

(3) Does he stop because he admires the beauty of the woods?

(4) Does he find any farmhouses there?

(5) Where do you think the speaker’s position at the moment?

(6) How is the situation when he stops at the place?

Line 9 – 12

(1) What does the speaker’s horse do?

(2) Why do you think the horse might do that?

(3) What does the speaker hear?

(4) When you hear the same thing the speaker does, how can you feel about the situation at the time?

Line 13 – 14

(1) Is the speaker attracted by the beauty of the woods?

(2) How does the speaker describe the woods?

(3) Do you think he is tempted to go farther into the woods?

(4) Does the speaker go into the woods? Why? Or Why not?

 

Line 15 – 16

(1)Does the speaker choose continuing his journey or staying at wonders of the beauty of the woods?

 

b) Tema

(1) Does the poem tell you about beauty’s nature?

(2) Does the poem give you an idea about the obligation of man?

(3) Do you agree that we see two different location/setting presented in the poem the woods and village (farmhouses)?

(4) Do you agree that the man with his horse is being caught between the two different locations? Explain?

(5) Do you agree that the man is drawn to the beauty and allure of the woods but has obligations which draw him away from the nature and back to society and the world of men? Explain.

(6) Do you agree that the man is faced with a choice of whether to give in to the allure of nature or remain in the realm of society? Explain.

 

c) Simbol-simbol

(1) Do you agree that ‘the woods’ represent nature or wilderness which is always in contrast with ‘village’ and ‘farmhouses’ that represent civilization? Explain.

(2) Do you agree that ‘horse’ is a symbol for ‘the reminder’ towards the speaker? Explain.

(3) What do you think ‘sleep’ might represent? Give reasons.

d) Meter, Rhythm, dan Rhyme

(1) Do you know How many stanzas is the poem composed of?

(2) Rubaiyat stanza? If yes, explain.

(3) Does this poem apply the Rubaiyat stanza?

(4) What tetrameter is being applied in this poem?

(5) How many syllables does each line of the poem contain?

(6) How can you figure it out?

(7) What rhyme scheme does this poem have?

(8) How can you identify the rhyme scheme?

 

e) Metafora

(1) Do you agree that the poet is trying to compare two different worlds (wilderness, which is represented by ‘woods’ and civilization, which is represented by ‘village/farmhouses’ in this poem? Explain.

(2) Do you agree that the man (the speaker) with his horse is being caught between wilderness and civilization? Explain?

(3) Do you agree that the man is drawn to the beauty and allure of the woods but has obligations which draw him away from nature and back to society and the world of men? Explain.

(4) Do you agree that the man is faced with a choice of whether to give in to the allure of nature or remain in the realm of society? Explain.

(5) What do you think about the interpretation of line 15 – 16?

 

 

 

 

4) Menyiapkan sekelompok pertanyaan bagi masing-masing kelompok.

a) Kelompok 1

Perintah: Discussing with the members of your group, make a summary of the poem by doing the following instructions:

(1) Divide the poem into five parts as follows:

(a) Line 1 – 4

(b) Line 5 – 8

(c) Line 9 – 12

(d) Line 13 – 14

(e) Line 15 – 16

(2) From each division of the poem, write a summary that describes the part.

 

b) Kelompok 2

Perintah: Discussing with the members of your group, find the theme of the poem by answering the following questions.

(1) What is being explored in the poem? The man, the horse, or the nature?

(2) What is the relationship between the man and the nature?

(3) What is the theme in this poem?

 

c) Kelompok 3

Perintah: Discussing with the members of your group, find the symbols used in the poem by answering the following questions.

(1) What do you think about some objects that are being used as symbols in this poem?

(2) What might the object represent?

 

d) Kelompok 4

Perintah: Discussing with the members of your group, find the meter, rhythm, and rhymes in the poem by answering the following questions.

(1) What type of stanza is applied in the poem?

(2) What tetrameter is being applied?

(3) Find and figure out the number of syllable each line has.

(4) Identify the rhyme scheme.

 

e) Kelompok 5

Perintah: Discussing with the members of your group, try to see whether there’s a kind of metaphor applied in the poem by answering the following questions.

(1) What is being compared in the poem?

(2) In your opinion, what can be represented by nature and village/farmhouses?

(3) Why does the speaker says: “But I have promises to keep”

(4) What does “And miles to go before I sleep” mean?

 

 

 

2.      Pembentukan Kelompok Jigsaw

Pembentukan kelompok Jigsaw dilakukan dengan membagi kelas menjadi 5 kelompok (sesuai topik pembahasan yang telah disiapkan). Dosen melabeli kelompok mahasiswa dengan label kelompok A (poem summary group), kelompok B (theme group), Kelompok C (symbols group), kelompok D (meter, rhythm, and rhyme group), dan kelompok E (metaphor group). Komposisi kelompok sebaiknya terdiri dari anggota yang sifatnya heterogen, berkisar pada kemampuan yang beragam (pandai, menengah, dan kurang pandai). Juga harus diperhitungkan masalah etnis, gender, dll., untuk pembentukan kelompok ini agar setiap anggota kelompok dapat berinteraksi sosial dan bekerjasama dalam kelompok dengan baik.

Setelah itu dosen memilih salah satu dari anggota masing-masing kelompok untuk dijadikan ketua. Sang ketua inilah yang nantinya akan menjadi anggota kelompok ahli (expert group) yang akan mendiskusikan topik pembahasan yang sudah disiapkan oleh dosen. Tujuannya adalah agar mereka akan dapat membantu teman-temannya di dalam kelompok masing-masing.

Adapun gambaran dari pembentukan kelompok Jigsaw dan alur kerjanya adalah sebagai berikut:

  1.  Tahap Presentasi (Presentation Stage)

Dalam tahap presentasi, setelah membagikan teks yang berisikan puisi dan sekelompok pertanyaan yang berbeda, dosen melakukan pengarahan kepada mahasiswa mengenai apa yang harus mereka lakukan. Langkah berikutnya dosen melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan elemen-elemen puisi dalam analisis pada sebuah puisi berjudul Stopping by Woods on a Snowy Evening karya Robert Frost. Di sinilah dosen dituntut untuk membuat kelas menarik dengan arahannya agar tidak terkesan kaku dan statis agar kelas sastra menjadi lebih menyenangkan.

Pertama, dosen membacakan puisi Robert Frost Stopping by Woods on a Snowy Evening di depan kelas, memberikan model pembacaan puisi. Mahasiswa mendengarkannya dengan sepenuh hati. Ketika sedang membacakan, dosen menggunakan visualisasi agar apa yang dibaca membawa efek makna dan efek keindahan. Visualisasi pembacaan puisi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas atau media yang tersedia di kelas, misalnya sorotan dari LCD proyektor yang menampilkan beberapa gambar. Gambar-gambar tersebut mewakili kata-kata yang ada dalam puisi Robert Frost tentang keindahan alam pada waktu musim dingin yang beku yang ditangkap oleh seseorang yang menunggangi kuda ketika terhenti dari sebuah perjalanannya. Gambar-gambar tersebut juga berfungsi sebagai media pemahaman kosa kata yang dikemas sedemikian rupa agar mahasiswa dapat menghubungkan kata-kata yang dipilih dalam puisi dengan sebuah makna atau suatu cerita yang dibawa oleh puisi tersebut.

Kedua, dosen memerintahkan kepada mahasiswa untuk duduk bersama kelompoknya masing-masing untuk mulai membahas tugas-tugas (learning task) yang sudah disiapkan dan diberikan oleh dosen. Setelah itu, mahasiswa berdiskusi dengan anggota kelompok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam teks sembari mencermati kembali puisi yang tadi telah dibacakan oleh sang dosen.

Apa yang telah dilakukan dosen dipercaya akan menumbuhkan motivasi tinggi bagi diri mahasiswa. Terlebih lagi, dosen selalu berusaha menempatkan dirinya di mana saat mahasiswa memerlukannya ketika berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Dengan demikian, mahasiswa dapat bekerjasama dengan anggota kelompoknya mencapai tujuan pembelajaran bersama-sama. Seperti yang sering dikutip pada tiap-tiap pengaplikasian pembelajaran kooperatif, yaitu :’we swim and sink together”, yang artinya, apabila salah satu dari anggota melakukan tindakan yang gemilang maka seluruh anggota kelompok juga merasakan hal yang sama, yaitu sukses bersama-sama. Sebaliknya, apabila salah satu anggota gagal, maka gagallah keseluruhan anggota.

Adapun presentasi kelas dibagi menjadi dua macam, yaitu presentasi individu dan presentasi kelompok (Slavin, 2001:120).

1)      . Presentasi Individu

Presentasi individu diwarnai oleh kegiatan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan hasil temuan mereka masing-masing mengenai topik-topik yang telah diberikan oleh dosen. Kelompok ahli ini ada yang mempresentasikan ringkasan cerita dari puisi tersebut (anggota dari kelompok A), ada yang mengemukakan pendapatnya tentang tema (anggota dari kelompok B), ada yang menceritakan tentang simbol-simbol dari objek tertentu yang dipakai dalam puisi ini (anggota dari kelompok C), ada yang menerangkan tentang sistim metric puisi ini (anggota kelompok D), dan akhirnya ada yang mengulas tentang unsur metafora dalam puisi ini (anggota kelompok E).

Kelompok ahli tersebut berdiskusi dan membahas semua topik yang ditugaskan oleh dosen. Di sini dosen berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan arah diskusi agar mencapai tujuan, yaitu mereka yang tergabung dalam kelompok ahli dapat mengajarkan ‘keahliannya’ ke teman-teman kelompoknya masing-masing.

Maka tibalah saatnya bagi masing-masing anggota kelompok ahli untuk kembali ke kelompoknya masing-masing dan kembali membahas masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan yang menjadi tugas (learning task) bagi kelompok mereka. Peran dari ketua kelompok adalah membantu anggota kelompok untuk merumuskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam teks dan membantu melengkapi sebuah susunan bahan presentasi kelompok nantinya. Misalnya, kelompok B akan membantu anggota kelompoknya untuk dapat mengulas tema puisi ini dalam bentuk uraian yang singkat dan representatif.

Selama berdiskusi seluruh anggota mengerahkan segenap kemampuan mereka. Ada yang mencatat, ada yang mengkritik, ada yang menyemangati, ada yang memeriksa ulang pekerjaan, dan ada yang menyiapkan presentasi. Mereka harus benar-benar dapat memanfaatkan waktu yang diberikan.

Peran dosen dalam tahap ini adalah sebagai narasumber dan fasilitator. Ia berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lainnya untuk melihat bagaimana mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Sesekali dosen memberi bantuan dengan mengarahkan pada pengertian akan konsep tertentu apabila ada kelompok yang belum mengerti akan tugas yang harus diselesaikannnya.

 

 

2)      . Presentasi Kelompok

Tahap presentasi kelompok bercirikan adanya kegiatan dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Untuk ini mereka diberi kesempatan untuk menggunakan segala fasilitas yang ada guna mendukung penampilan kelompok mereka. Masing-masing kelompok akan memberikan hasil akhir dari diskusi mereka dengan menampilkan jawaban atau ulasan singkat tentang tugas-tugas yang telah diberikan dosen kepada masing-masing kelompok.

Kelompok A, misalnya akan menampilkan uraian seputar ringkasan cerita dari puisi Stopping by Woods on a Snowy Evening. Dari sini seluruh kelas akan memperoleh informasi mengenai rangkaian peristiwa yang dipersembahkan oleh kelompok A mengenai puisi tersebut. Hal ini tidak menutup kemungkinan adanya pertanyaan dan sanggahan serta pendapat yang berbda dari kelompok lain dalam menanggapi hasil diskusi kelompok A. Begitu pula seterusnya untuk presentasi kelompok B dengan tema puisi, kelompok C dengan symbol-simbol dalam puisi, kelompok D dengan sistim metrik puisi, dan sampailah pada kelompok E dengan metafora puisi.

Yang terjadi adalah diskusi yang menarik antara kelompok yang membahas sebuah puisi berdasarkan unsur-unsur pendukung puisi tersebut yang meliputi tema, simbol, meter, rhythm, rhyme, dan metafora. Seluruh kelas akhirnya memiliki pengetahuan tentang elemen-elemen puisi tersebut dengan melalui pemahaman sebuah analisa sebuah puisi sebagai contoh. Hasil kerja suatu kelompok telah melengkapi hasil kerja kelompok-kelompok lainnya sehingga memmbentuk suatu kesatuan analisis. Alhasil, semua mahasiswa pada hari itu telah memperoleh pengetahuan mengenai analisis puisi dengan analisis struktural.

3 . Tahap Penilaian (Assessment Stage)

Penilaian otentik (authentic assessment) digunakan sebagai penilaian kegiatan kelas sastra ini. Tahap penilaian merupakan tahap akhir bagi seorang dosen dalam kegiatan pembelajarannya. Chapella dan Briedley (2002:267) mendefinisikan tahap ini sebagai tindakan seorang guru mengumpulkan informasi dan membuat pendapat mengenai pengetahuan siswa akan kemampuan berbahasa serta bagaimana menggunakan bahasa tersebut.

Menurut Slavin (2008:80-3) dan Arends (2001:339), penilaian terhadap model pembelajaran menggunakan Jigsaw terdiri dari tiga lapis. Penilaian tersebut mencakup tes akademik (pengambilan nilai individu), penilaian kelompok, dan penilaian kerjasama. Penilaian dilaksanakan dalam bentuk baik tulis maupun lisan.

Tes akademik atau tes untuk memperoleh nilai kemampuan individu biasanya berbentuk tes tulis tetapi tidak menutup kemungkinan untuk tes kinerja. Dalam kelas ini tes akademik dilaksanakan dalam dua lapis, yaitu lapis pertama adalah menilai masing-masing kinerja individu dalam sumbangsih mereka ketika terlibat presentasi kelompok. Lapis kedua adalah menilai masing-masing kinerja secara individu. Sebagai contoh, penilaian pada lapis pertama dilakukan secara on going process, yaitu ketika diskusi sedang berlangsung. Dosen memperhatikan sumbangsih masing-masing mahasiswa yang bekerja dalam kelompoknya dan tentu saja ini memerlukan format penilaian khusus agar diperoleh nilai yang rinci. Pada lapis kedua, dosen memberikan penilaian secara individu dengan memberi tugas analisis puisi. Dalam hal ini mahasiswa diberi beberapa pilihan puisi oleh dosen untuk dianalisis dan dilaporkan dalam bentuk tulisan. Format analisis mengikut pada tata cara kerja kelompok dalam menganalisis puisi yang sudah dicontohkan.

Penilaian kelompok dapat berupa penilaian lisan yang dilakukan pada waktu presentasi kelompok dimana masing-masing anggota kelompok tertentu mepresentasikan hasil diskusi kelompok yang membahas materi tertentu. Nilai yang dihasilkannya gabungan antara nilai presentasi dan nilai diskusi kelompok. Penilaian kerjasama, pada akhirnya, sangat penting. Ini sesuai dengan adanya unsur pengakuan tim. Kerjasama yang baik akan memperoleh pengakuan tim yang baik pula dan ini amat dibutuhkan untuk mendorong semangat siswa untuk semangat belajar dan bekerja lebih baik.

Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Pembelajaran sastra pada fokus menganalisis puisi berdasarkan unsur-unsurnya ternyata dapat diterapkan dengan menggunakan metode kooperatif. Model atau strategi kooperatif yang dipilih adalah Jigsaw, yaitu teknik pembelajaran kooperatif dimana setiap anggota tim bertanggungjawab untuk menyelesaikan materi pembelajaran yang ditugaskan kepadanya, kemudian mengajarkan materi tersebut kepada teman sekelompoknya yang lain.

Dengan menerapkan jigsaw, kelas sastra akan lebih gumregah karena peran mahasiswa menjadi penting. Ini tidak seperti yang biasa dilakukan oleh pengajar di kelas sastra biasa yang hanya memberi ceramah kepada mahasiswa dan menyuruh mahasiswa menghafal konsep-konsep sastra tertentu dan akhirnya berakhir pada ujian tulis. Dalam pembelajaran kooperatif seperti ini, mahasiswa akan memperoleh pengetahuan mengenai unsur-unsur puisi yang dikonstruknya sendiri dengan melakukan berbagai macam kegiatan penemuan dan bekerjasama dalam suatu kelompok atau tim. Disamping itu, model jigsaw memberikan ruang gerak yang lebih luas karena masing-masing kelompok akan memberikan hasil diskusinya untuk satu tugas pembelajaran (learning task) yang nantinya akan digabung dengan hasil diskusi kelompok lainnya sehingga menjadi suatu keutuhan analisis. Ruang gerak yang lebih luas diartikan sebagai lebih luasnya waktu dan lebih banyaknya kesempatan untuk mendalami dan memperoleh informasi mengenai sebuah topik kecil yang ditugaskan pada kelompok tersebut.

2.4 Prosedur Pembelajaran Bahasa Inggris

1.  Elaborasi

Kognitivisme memiliki beberapa cabang ilmu, di antaranya teori asimilasi, atribusi, pertunjukkan komponen, elaborasi, mental model, dan pengembangan kognitif. Teori elaborasi adalah teori mengenai desain pembelajaran dengan dasar argumen bahwa pelajaran harus diorganisasikan dari materi yang sederhana menuju pada harapan yang kompleks dengan mengembangkan pemahaman pada konteks yang lebih bermakna sehingga berkembang menjadi ide-ide yang terintegrasi. Pengertian ini dirumuskan Charles Reigeluth dari Indiana University dan koleganya pada tahun 1970-an. Konsep ini memiliki tiga kata kunci yang fokus pada urutan elaborasi konsep, elaborasi teori, dan penyederhanaan kondisi.

Pembelajaran dimulai dari konsep sederhana dan pekerjaan yang mudah. Bagaimana mengajarkan secara menyeluruh dan mendalam, serta menerapkan prinsip agar menjadi lebih detil. Prinsipnya harus menggunakan topik dengan pendekatan spiral. Sejumlah konsep dan tahapan belajar harus dibagi dalam “episode belajar”. Selanjutnya siswa memilih konsep, prinsip, atau versi pekerjaan yang dielaborasi atau dipelajari.

Pendekatan elaborasi berkembang sejalan dengan tumbuhnya perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sebagai kebutuhan baru dalam menerapkan langkah-langkah pembelajaran. Dari pikiran Reigeluth lahirlah desain yang bertujuan membantu penyeleksian dan pengurutan materi yang dapat meningkatkan pecapaian tujuan. Para pendukung teori ini juga menekankan pentingnya fungsi-fungsi motivator, analogi, ringkasan, dan sintesis yang membantu meningkatkan efektivitas belajar. Teori ini pun memberikan perhatian pada aspek kognitif yang kompleks dan pembelajaran psikomotor. Ide dasarnya adalah siswa perlu mengembangkan makna kontekstual dalam urutan pengetahuan dan keterampilan yang berasimilasi.

Menurut Reigeluth (1999), teori elaborasi mengandung beberapa nilai lebih, seperti di bawah ini.

  • Terdapat urutan instruksi yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan untuk meningkatkan motivasi dan kebermaknaan.
  • Memberi kemungkinan kepada pelajar untuk mengarungi berbagai hal dan memutuskan urutan proses belajar sesuai dengan keinginannya.
  • Memfasilitasi pelajar dalam mengembangkan proses pembelajaran dengan cepat.
  • Mengintegrasikan berbagai variabel pendekatan sesuai dengan desain teori.

 

Teori elaborasi mengajukan tujuh komponen strategi yang utama, (1) urutan elaborasi (2) urutan prasyarat belajar (3) ringkasan (4) sintesis (5) analogi (6) strategi kognitif, dan (7) kontrol terhadap siswa. Komponen terpenting yang melandasi semua itu adalah perhatian. Semua stratregi itu harus berlandaskan pada materi dalam bentuk konsep, prosedur, dan prinsip. Hal itu terkait erat dengan proses elaborasi yang berkelanjutan, melibatkan siswa dalam pengembangan ide atau keterampilan dalam aplikasi praktis. Strategi ini memungkinkan siswa untuk menambahkan sendiri ide dalam menguatkanpengetahuannya. Contoh yang tepat untuk ini adalah peserta didik yang memiliki daftar contoh konsep atau sifat yang dapat bermanfaat.

2. Eksplorasi

Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif. Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.”

Pendekatan belajar yang eksploratif tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, namun harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Informasi tidak hanya disusun oleh guru. Perlu ada keterlibatan siswa untuk memperluas, memperdalam, atau menyusun informasi atas inisiatifnya. Dalam hal ini siswa menyusun dan memvalidasi informasi sebagai input bagi kegiatan belajar (Heimo H. Adelsberger, 2000).

Peta Konsep yang dikembangkan oleh Laurillard (2002) dalam tulisan Heimo menunjukan kompleksitas kegiatan eksplorasi dalam proses pembelajaran yang mengharuskan adanya proses dialog yang (1) interaktif (2) adaptif, interaktif dan reflektif (3) menggambarkan tingkat-tingkat penguasaan pokok bahasan (4) menggambarkan level kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan keterampilan menyelesaikan tugas sehingga memeperoleh pengalaman yang bermakna. Ada pun konsep tersebut dapat disajikan seperti diagram di bawah ini :

 

Pendekatan eksploratif berkembang sebagai pendekatan pembelajaran dalam bidang lingkungan atau sains. Sylvia Luretta dari Fakultas Pendidikan Queensland misalnya, mengintegrasikan pendekatan ini dengan lima faktor yang menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna, yaitu belajar aktif, belajar konstruktif, belajar intens, belajar otentik, dan kolaboratif yang menegaskan pernyataan bahwa pembelajaran eksploratif lebih menekankan pada pengalaman belajar daripada pada materi pelajaran.

Dari pengalaman  menggunakan model kooperatif dan kolaboratif dalam praktek pembelajaran pengelolaan kelas ternyata mampu meningkatkan kinerja belajar siswa dalam melakukan langkah-langkah eksploratif. Model pembelajaran ini dapat dikembangkan melalui bentuk pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Socrates bahwa pertanyaan yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan lebih mendalam.

Eksplorasi merupakan proses kerja dalam memfasilitasi proses belajar siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Siswa menghubungkan pikiran yang terdahulu dengan pengalaman belajarnya. Mereka menggambarkan pemahaman yang mendalam untuk memberikan respon yang mendalam juga. Bagaimana membedakan peran masing-masing dalam kegiatan belajar bersama. Mereka melakukan pembagian tugas seperti dalam tugas merekam, mencari informasi melalui internet serta memberikan respon kreatif dalam berdialog.

Di samping itu siswa menindaklanjuti penelusuran informasi dengan membandingkan hasil telaah. Secara kolektif, mereka juga dapat mengembangkan hasil penelusuran informasi dalam bentuk grafik, tabel, diagram serta mempresentasikan gagasan yang dimiliki.

Pelaksanaan kegiatan eksplorasi dapat dilakukan melalui kerja sama dalam kelompok kecil. Bersama teman sekelompoknya siswa menelusuri informasi yang mereka butuhkan, merumuskan masalah dalam kehidupan nyata, berpikir kritis untuk menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata dan bermakna.

Melalui kegiatan eksplorasi siswa dapat mengembangkan pengalaman belajar, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan serta menerapkannya untuk menjawab fenomena yang ada. Siswa juga dapat mengeksploitasi informasi untuk memperoleh manfaat tertentu sebagai produk belajar.

3. Konfirmasi

Kebenaran ilmu pengetahuan itu relatif. Sesuatu yang saat ini dianggap benar bisa berubah jika kemudian ditemukan fakta baru yang bertentangan dengan konsep tersebut. Oleh karena itu, sikap keilmuan selalu terbuka dalam memperbaiki pengetahuan sebelumnya berdasarkan penemuan terbaru. Sikap berpikir kritis dan terbuka seperti itu telah membangun sikap berpikir yang apriori, yaitu tidak meyakini sepenuhnya yang benar saat ini mutlak benar atau yang salah mutlak salah. Semua dapat berubah.

Cara berpikir seperti itu tercermin dalam istilah mental model yang mendeskripsikan sikap berpikir seseorang dan bagaimana pikirannya berproses dalam kehidupan nyata. Hal tersebut merepresentasikan proses perubahan sebagai bagian dari persepsi intuitif. Mental model itu membantu seseorang dalam mendefinisikan maupun menetapkan pendekatan untuk memecahkan masalah (wikipedia). Dengan sikap berpikir seperti itu siswa dapat mengembangkan, mengembangkan ulang, dan menggugurkan pengetahuannya jika telah menemukan kebenaran yang lain.

Mental model itu juga dapat melahirkan keraguan terhadap informasi yang diperolehnya. Untuk meningkatkan keyakinan akan kebenaran maka siswa dapat difasilitasi dalam mengembangkan model struktur seperti pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi atau klarifikasi.

Model ini dapat dinyatakan dalam diagram seperti tertuang di bawah ini meliputi enggage, explore, explain, extend, dan berpusat pada pengembangan kemampuan mengevaluasi sebagaimana yang dikembangkan Anthony W. Lorsbach dari Universitas Illinois sebagai berikut

 

Dalam prakteknya guru meningkatkan kemampuan ini melalui pengembangan materi. Baik mengenai hal apa yang ingin diketahui siswa lebih jauh, seperti apa tingkat pemahaman dan penguasaan yang ingin dikembangkan dan keraguan apa yang melekat dalam pemahaman tersebut.

Sikap keraguan itu perlu dijawab dengan mengkonfirmasikan terhadap unsur-unsur yang dapat meningkatkan kejelasan atas kebenaran suatu informasi. Siswa melakukan uji kesahihan apakah informasi yang dijadikan landasan kesimpulan itu benar-benar kuat. Penguatan itu sendiri diperoleh melalui kegiatan eksplorasi melalui perluasan pengalaman, elaborasi melalui sharing dan observation, proses dan genaralisasi dan akhirnya siswa menerapkan  pembelajaran yang berstandar dengan merujuk pada paradigma kognitifisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN  PEMBELAJARAN

NOMOR : 1

Sekolah                                    : SMK Negeri Jatipuro

Mata Pelajaran             : Bahasa Inggris

Kelas/ Semester                       : XI / 3

Pertemuan ke                           : 1-3

Alokasi waktu                          : 6 x 45 menit ( 3pertemuan)

Standar Kompetensi                 : 2.Berkomunikasi dalam bahasa Inggris setara levelelementary

Kompetensi Dasar                   : 2.1. Memahami percakapan sederhana sehari-hari dalam konteks professional dan nonprofesional dengan penutur non- native.

Indikator                      : – Menggunakan penuturan untuk bercerita mengenai kehidupan sehari-hari

-Bercakap-cakap tentang hobi dan minat.

  1. Tujuan Pembelajaran :

-          Siswa dapat menggunakan penuturan yang tepat untuk bercerita mengenai kehidupan sehari- hari dengan benar.

-          Siswa dapat menggunakan penuturan yang tepat untuk mengadakan percakapan tentang hobi dan minat dengan benar.

 

  1. Materi Pembelajaran :

-          Contoh percakapan tentang kehidupan sehari hari :

John : Hello, is anyone here?

Jean : Hi, John. Come in and have a seat, please. What would you like to drink, coffee or tea?

John : I’d rather have coffee, please.

Jean : Is there anything I can do for you John  ?

John : Yes. Yesterday, I didn’t go to school because I had a cold. I would like to borrow your book . I’m afraid of falling  behind.

Jean : Okay, I’ll lend it to you.

Expressions used in daily activities:

-          What do you usually do everyday?

-          What time do you usually get up?

-          Do you always get up early in the morning?

-          Does your father go to work by bus everyday? Etc.

When you are asked about your daily activities, you can respond using the following expressions:

-          I usually go to school at 6.30.

-          I like to watch TV

-          I wake up at 5.00 in the morning

-          Yes, I do. I always get up early.

Text for daily activities:

My daily activities.

Every morning from Monday to Saturday, I get up at  6 o’clock. After breakfast, I go to school by bicycle. It takes about 15 minutes from my house to school. Usually I study at school until 1:30 p.m. I get home in the afternoon and have lunch with my mother. Then I attend a computer course until 5:00 p.m. I get home at 6:00 p.m. and have dinner with my family at 7.00. after that I usually prepare my books for school. I go to bed around 10:00 p.m.

I have different activities on weekends. I usually accompany my mother to go to the market. Sometimes, I go  downtown with some of my friends. Sunday is my favorite day to do anything I like.

Contoh percakapan tentang hobi dan minat :

Anwar : What do you like to do in your spare time, Yoga.?

Yoga    :  I like fishing very much. I go fishing almost every weekend.

Anwar     : You do? Hey, we share the same hobby then. Let’s go fishing together sometimes. I know some favorite spots.

Yoga       : That sounds great. What about next Sunday? I’ll bring the sandwich for lunch.

Anwar     : Okay, that’s a good idea. I’ll bring the soft drink then.

Expressions used to talk about hobbies and interest:

-What do you like to do in your spare time?

-What is your hobby?

-Do you have any hobbies?

-Do you like ………(fishing, cooking, reading, writing, etc)?

-Are you interested in playing football?

-What kind of subjects are you interested in?

Use the expressions below to answer questions about hobbies and interests:

-My hobby is swimming

- I like playing football.

-Yes, I have some hobbies. I love playing football and basketball.

- My hobbies are cooking and gardening.

  1. Metode Pembelajaran :

-          Three phase technique.

  1. Langkah- Langkah Kegiatan Pembelajaran :

1. Pertemuan Pertama dan Kedua:

a. Kegiatan Awal : 10 ‘

- Guru menunjukkan gambar tentang kegiatan sehari-hari dan mengajukan pertanyaan :

-Do you like to have dinner with your family?

- What time do you usually have dinner?

- What kind of food do you like to have for dinner? Etc

- Guru menginformasikan tujuan yang akan dicapai.

b. Kegiatan Inti.

  • Elaborasi 30’

- Murid membaca nyaring contoh dialog .

- Murid mengidentifikasi pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

-Murid membaca contoh bacaan tentang kegiatan sehari-hari.

  • Eksplorasi 90’

-Murid mengisi dialog rumpang  berdasar teks yang dibaca guru.

- Murid memilih gambar yang sesuai dengan kalimat yang dibaca guru.

-Murid berlatih membuat pertanyaan tentang kegiatan sehari-hari berdasar data yang ada.

- Murid membuat kalimat tentang kegiatan sehari-hari.

  • Konfirmasi 30’

-Murid mengoreksi pekerjaan teman dengan dipandu guru

-Murid membetulkan kalimat yang yang sudah dikoreksi teman.

c. Kegiatan akhir 10’

- Siswa menyimpulkan materi pelajaran dengan cara menjawab pertanyaan dari guru.

-Guru memberi pekerjaan rumah pda siswa untuk menyusun kalimat yang sudah dibuat menjadi satu teks bacaan..

2. Pertemuan Ketiga :

a. Kegiatan Awal 10’

- Sambil menunjukkan gambar, guru bertanya kepada siswa:

-          Do you like playing basketball?

-          How often do you play basketball?

-          Where do you usually play basketball?

-          Do you like to play other sport?

-          What is your hobby? etc

-          Guru menginformasikan tentang tujuan pembelajaran.

b. Kegiatan Inti :

Eksplorasi: 10’

-          Siswa membaca contoh dialog tentang hobby dan minat

-          Siswa mengidentifikasi kalimat yang berhubungan denga hobi dan minat.

Elaborasi:30’

-Siswa menjawab pertanyaan berdasar dialog yang dibaca guru.

-Siswa berlatih membuat dialog tentang hobi dan minat dengan teman.

Konfirmasi 30’

-Siswa mempraktekkan tanya jawab tentang hobi dan minat.

c. Kegiatan akhir 10’

- Siswa menyimpulkan materi dengan menjawab pertanyaan dari guru.

E. Alat dan Media  Belajar :

1. Gambar gambar yang relevan

F. Buku Pegangan Guru dan Siswa :

1. Get Along with English 2, Entin Sutinah dkk, Erlangga, Jakarta, 2010

2. Lembar Kerja Siswa, XI a, Viva Pakarindo, Klaten, 2011.

G. Tugas

1. Tugas Terstruktur

2. Tugas Mandiri

H. Penilaian

1. Teknik                     :

2. Bentuk Instrumen    :

3. Soal/ Instrumen        :

I. Listen and complete the missing words. Then answer the questions based on the dialog

Aldy          : Where do you  (1)……..?

Boby         : I work for Vacation Tour and Travel.

Aldy          : What do you do there?

Boby         : I’m a (2)……. I take people on tours to several cities in Indonesia.

Aldy          : That (3)……..!

Boby          : Yes, it’s (4) ………, I love it. And what do you do?

Aldy           : I’m a student, and I’m doing a (5)……, too

Boby          : Where do you work?

Aldy          : I work in a (6) …….. restaurant. I cook hamburgers there.

Boby          : Mr. Donald’s?

Aldy          : No, I (7) ……..Mac Burger

  1. What does Aldy do?
  2. Where does he work?
  3. Does he work part-time?
  4. What does Boby do?
  5. Where does he work?

II. Work in pairs! Make questions and answer about daily activities based on the table below!

Daily Activities

Rina Yuda
5:00 a.m wake up

6:00  a.m have breakfast

6:15 a.m  go to school

1:30 p.m have kunch

1:45 p.m take a nap

3:30 p.m clean the house

4:45 p.m watch TV

7:00 p.m have dinner

7:17 p.m study

10:00 p.m go to bed

4:45 a.m wake up

6:00 a.m have brakfast

6:15 a.m. go to school

1:30 p.m have lunch

2:00 p.m take a nap

3:30 p.m clean the house

4:45 p.m watch TV

7:00 p.m have dinner

7:17 p.m study

10:00 p.m go to bed

Example : What time do you wake up Rina?  I wake up at 5 in the morning

What o you do after school Yuda? I have lunch, then I take a nap.

IV. Read the text below and discuss it with your friends.

My daily activities.

Every morning from Monday to Saturday, I get up at  6 o’clock. After breakfast, I go to school by bicycle. It takes about 15 minutes from my house to school. Usually I study at school until 1:30 p.m. I get home in the afternoon and have lunch with my mother. Then I attend a computer course until 5:00 p.m. I get home at 6:00 p.m. and have dinner with my family at 7.00. after that I usually prepare my books for school. I go to bed around 10:00 p.m.

I have different activities on weekends. I usually accompany my mother to go to the market. Sometimes, I go downtown with some of my friends. Sunday is my favorite day to do anything I like.

Write your daily activities and then compare them with your friend’s!.

V. Listen to your teacher and answer the questions below!

1. What are Edward’s hobbies?

2. What are Emily’s hobbies?

3. What does Emily usually do on the weekend?

4. What kind of music dos Edward like?

5. Who usually take s a nap and goes shopping in the afternoon?

VI. Make a dialog with your friend asking about your hobby and interest.  The contents of the dialog are :

  1. Greet your friend. Ask your friend if he likes volleyball.
  2. Respond greeting. Tell that you love volleyball very much.
  1. Say that you are happy to hear that, ask your friend to join your volleyball club.
  2. Agree to join the club, ask when to start.
  1. Answer that the practice begins tomorrow. The schedule will be every Thursday and Saturday.
  2. Thanks your friend, ask to go together tomorrow
  1. Agree to go together.

Kunci  jawaban :

I.   Aldy           : Where do you work.?

Boby          : I work for Vacation Tour and Travel.

Aldy          : What do you do there?

Boby          : I’m a guide .I take people on tours to several cities in Indonesia.

Aldy          : That sounds interesting!

Boby          : Yes, it’s a great job , I love it. And what do you do?

Aldy          : I’m a student, and I’m doing a part-time job, too

Boby          : Where do you work?

Aldy          : I work in a fast food restaurant. I cook hamburgers there.

Boby          : Mr. Donald’s?

Aldy          : No, I work for Mac Burger

1. He is a cook.

2. He works for Mac Burger.

3. Yes, he does.

4. He is a tour guide.

5. He works for Vacation Tour and Travel.

II. Choose the sentence which match the picture!

1. A. The girl is making ice cram

B. The girl is eating ice cream

C. The girl’s mother is an ice cream seller.

D. The little girl is selling ice cream

2. A. My mother is vacuuming the floor

B. Tina is sweeping the bedroom.

C. Jean is making the bed

D. Rita is brushing the floor

3. A. The man is smiling widely

B. The woman is stretching her left arm

C. They are joining the dancing competition

D. They are practicing to dance.

4. A. The lady is being interviewed

B. The TV is running a movie.

C. The woman is presenting the news.

D. The man on TV is waving to the audience..

5. A. My father is an ambulance driver

B. The ambulance is in the garage.

C. The siren is out of order.

D. The ambulance gets a flat tire.

III. Sesuai jawaban siswa

Contoh : What time do you wake up Rina?  I wake up at 5 in the morning

What do you do after school Yuda? I have lunch, then I take a nap

 

IV. Sesuai jawaban siswa.

Contoh:I usually get up at  4:30 a.m

I take a bath at 5:00 after making my bed. Etc

 

V. Edward  : Do you have any hobbies, Emily?

Emily          : Yes, I do. My hobbies are swimming, dancing, and singing. How about you?

Edward      : I love fishing and listening to music.

Emily          : What kind of music do you like?

Edward      : I like pop music. By the way, what do you usually do on the weekend?

Emily          : I usually o some exercise in the morning, have a nap, and go shopping with my family in the afternoon. What about you?

Edward      : I usually stay home, help my parents, and have a family gathering.

 

1. Edward and loves fishing and listening to music.

2. Emily’s hobbies are swimming, dancing and singing.

3. Emoily does some exercises, have a nap, and go shopping.

4. Edward likes pop music.

5. Emily.

 

VI. Sesuai jawaban siswa.

Contoh :

Akram             : Hi, Deo. Do you like volleyball?

Deo                  : Hello Akram. Yes, I like volleyball very much.

Akram             : I love to hear that. Hey, how about joining my volleyball club? We can practice together.

Deo                  : That’s a good idea. When will  practice begin?

Akram             : It starts tomorrow. The schedule is on Thursdays and Saturdays.

Deo                  : Okay. I’ll pick you up tomorrow at 3:00 p.m

Akram             : That’s great. I’ll be waiting.

Pedoman Penskoran :

  1. Listening :
Uraian Skor
Jawaban benar 1
Jawaban salah 0

Nilai maksimal : 10

Menjawab pertanyaan

Uraian Skor
Makna benar, tata bahasa benar 2
Makna benar, tata bahasa salah 1
Makna salah, tata bahasa salah 0

Nilai  maksimal : 10

  1. Listening
Uraian Skor
Jawaban benar 2
Jawaban salah 0

Nilai maksimal:10

  1. Membuat kalimat :
Uraian Skor
Makna benar, tata bahasa benar 2
Makna benar, tata bahasa salah 1
Makna salah, tata bahasa salah 0

Nilai maksimal ;10

 

  1. Membuat kalimat
Uraian Skor
Makna benar, tata bahasa benar 2
Makna benar, tata bahasa salah 1
Makna salah, tata bahasa salah 0

Nilai maksimal: 10

  1. Menjawab pertanyaan
Uraian Skor
Makna benar, tata bahasa benar 2
Makna benar,tata bahasa salah 1
Makna salah, tata bahasa salah 0

Nilai maksimal : 10

  1. Membuat dialog
Uraian Skor
Makna benar, tata bahasa benar 2
Makna benar,tata bahasa salah 1
Makna salah, tata bahasa salah 0

Nilai maksimal : 10

 

NILAI AKHIR : 10+10+10+10+10+10  X 10

6

 

 

 

Karanganyar, 11 Juli 2011

 

KEPALA KOMP KEAHLIAN                                                 GURU PENGAMPU

 

 

 

……………………………….                                                  Musti Rahayu, Spd

NIP                                                                                          NIP: 19671017 199702 2 003

 

KEPALA SMK NEGERI JATIPURO

 

 

 

 

Drs. Supriyono, MHum

NIP: 19600615 198603 1 023

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Model pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terkesan mekanistis dengan menempatkan guru sebagai orang yang paling banyak tahu dan menempatkan siswa sebagai kelompok individu penerima pengetahuan dari guru dipercayai kurang banyak berhasil. Ketidakberhasilan itu ditandai dengan ketidakmampuan siswa untuk berfikir kritis dalam menciptakan suasana komunikasi bahasa Inggris yang bermakna. Bahkan proses pembelajaran seperti itu tidak mampu mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Kemampuan guru dalam mendesign proses pembelajaran yang menarik, inovatif dan menantang merupakan kunci keberhasilan dari proses pembelajaran itu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s